Minggu, 14 April 2013

Menyusuri Jejak Sejarah Psikologi Islam


 
 
 
 
 
 
Rate This

Ngopi#2
Menyusuri Jejak Sejarah Psikologi Islam

Bertempat di lapangan rumput Fakultas Psikologi UGM hari Kamis 28 April 2011 dimoderatori oleh Garin (2010) dan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an oleh Reza (2010). Materi disampaikan oleh Pak Bagus Riyono dengan tema jejak sejarah psikologi Islam.
Istilah Psikologi Islam itu sendiri pada awalnya dipicu oleh buku berjudul “Dilema Psikolog Muslim” yang ditulis oleh Pak Malik Badri. Buku ini menggugah para mahasiswa, tidak hanya mahasiswa psikologi saja.
Psikologi Islam bisa dari sejarahnya bisa dipandang sebagai gerakan psikologi Islam kontemporer dan bisa juga dipandang sebagai sejarah psikologi Islam esensial.
Dari segi esensi:
Imam Ghazali telah banyak memikirkan jiwa kemudian beliau menunjukkan pentingnya psikologi Islam. Kemudian ada juga Al Baqi yang telah banyak menulis buku tentang penyakit-penyakit psikologis. Baru-baru ini Pak Malik Badri menuliskannya kembali namun dari segi kognitif.
Masyarakat pelajar (muslim) sangat bersemangat mempelajari fiqih. Dua profesi yang paling populer pada zaman dulu adalah ahli hukum dan ahli kedokteran. Keduanya memang penting, namun ada hal yang lebih penting yaitu bagaimana menjaga kesehatan di dunia dan akhirat.
Keniscayaan dari psikologi Islam menurut Pak Malik Badri, tidak dipungkiri psikolog-psikolog barat. Karena psikologi itu sarat dengan nilai. Rusia sejak awal sudah menolak psikologi Amerika sehingga mereka membentuk psikologi Rusia. Saat ini psikologi sendiri dikuasai Amerika, sehingga nuansa Amerika bisa sangat kental. Indonesia merespon hal itu dengan membentuk Psikologi Indigenous bersama Korea dan China.
Psikologi= indigenous ini dianggap aneh, karena orang Barat menganggap Islam itu universal
Islam= universal
Orang Islam sendiri sering merasa “gamang” terhadap Psikologi Islam. Pertama karena orang Islam terlalu mengagumi psikologi barat. Kedua, karena tidak/ kurang suka pada psikologi Islam. Alasan kedua ini bisa terjadi karena orang itu tidak paham tentang psikologi atau tidak paham tentang Islam.
Orang yang tahu Islam tapi tidak suka psikologi Islam itu karena mereka tidak sadar hidupnya dipengaruhi psikologi. Menurut Pak Malik Badri, hampir semua psikologi barat menyamakan manusia dengan binatang. Sebetulnya kita bisa saja menolak perspektif manusia, tapi tidak menghilangkan terapinya. Karena metode-metode terapinya itu bukan murni dari kebinatangan.
Alkisah, ada seorang pedagang yang sangat tempramental. Kebetulan pembelinya juga suka seenaknya sendiri saat menawar, bahkan berani menawar sampai 1/3 dari harga semula. Karena kesal dengan tingkah pembelinya itu, si penjual kadang sampai mencekik si pembelinya.
Ia sadar bahwa itu tidak baik. Ia marah, tapi ia tahu bahwa marah bisa diredakan dengan berdzikir. Ia melakukannya sendiri dan itu tidak berhasil. Kemudian disuruhnyalah pembeli yang menjengkelkan itu ke rumah untuk mencacimakinya. Ia berhasil untuk tidak marah dengan berdzikir. Lalu disuruh lagi pembeli itu untuk mengundang teman-temannya agar bisa mencacimaki beramai-ramai. Ia pun berhasil tidak marah. Kemudian ia minta pada orang sepasar untuk mencacimaki. Ia berhasil tidak marah lagi. akhirnya penjual itu dikenal sebagai penjual yang paling ramah.
Sebenarnya asumsi dasar psikologi itu tentang hakikat manusia. Freudian mengasumsikan bahwa esensi manusia adalah nafsu amarah, kebinatangan. Behaviorisme: manusia seperti robot. Misal, seperti binatang sirkus. Psikologi Islam: ruh yang ditiupkan ke tubuh, mengalami perjalanan dan kembali ke Islam.http://psikologi islam sejarah
Di dunia akademik mungkin banyak perdebatan dan perlu perjuangan berat untuk psikologi Islam. Paradigma manusia adalah ruh. Sedangkan ruh sendiri masih susah diterima oleh psikologi barat. Spiritual barat, oleh orang barat sendiri dianggap sebagai sebuah ilusi hasil dari kekaauan otak. Islam memandang psikologi sebagai hal yang nyata.
Psikologi Islam tidak berbeda dengan Islam itu sendiri. syariat Islam adalah hukum tentang Islam, ilmu yang berbeda dengan psikologi. Al Ghazali menyatakan bahwa perlu ada ilmu lain, selain ilmu hukum dan kedokteran.
Orang mungkin bisa saja menggunakan fiqih tanpa psikologi Islam, tapi hatinya berarti tidak tersentuh.
Orang yang paling cerdas adalah orang yang ingat mati. Secara empiris ada bukti: Al Ghazali. Beliau sangat cerdas karena sangat mengingat mati. Beliau dikagumi kecerdasannya dari barat hingga timur. Beliau tidak pernah puas dan berhenti belajar karena ingat pada kematian.